Showing posts with label Zen. Show all posts
Showing posts with label Zen. Show all posts

Soyen Shaku


Sang Guru Soyen Shaku wafat pada usia enam puluh satu tahun, tetapi tidak sebelum ia menyelesaikan tugas yang  diserahkan kepadanya - ia mewariskan pengajaran yang lebih beragam dan tinggi daripada sebagian terbesar guru-guru Zen. Diceritakan bahwa murid-muridnya kadang-kadang tidur sesudah makan siang karena merasa lesu selama musim panas. Meskipun ia sendiri tidak pernah membuang waktu barang satu menit pun, Soyen tidak pernah mengatakan sepatah katapun mengenai kelemahan murid-muridnya ini.

Pada usia dua belas tahun Soyen sudah mempelajari ajaran-ajaran filsafat sekolah Tendai. Pada suatu hari di musim  panas,  suhu  begitu  tinggi dan  udara  melelahkan, sehingga Soyen yang masih kecil, karena melihat bahwa gurunya sedang  pergi,  tidak dapat menahan kantuknya dan tertidur.
Ia baru bangun karena terkejut, ketika ia mendengar gurunya masuk. Namun terlambat, Ia terbaring di  lantai, badannya membujur di depan pintu.

"Maafkan aku, maafkan aku," bisik gurunya yang dengan sangat hormat melompati tubuh Soyen yang terbujur itu, seolah-olah tubuh seorang tamu yang sangat terhormat. Sesudah itu Soyen tidak pernah tidur lagi pada siang hari.

Doa Sang Katak 2, Anthony De Mello

Susahnya Bertengkar

Ada dua orang bhiksu yang sudah hidup bersama selama empat puluh tahun dan mereka tidak pernah bertengkar. Satu kali pun belum pernah.
Suatu hari, seorang dari mereka berkata, "Tidakkan kau berpikir bahwa inilah saatnya kita bertengkar, paling tidak sekali saja?"
Bhiksu yang lainnya menyahut, "Bagus kalau begitu! Mari kita mulai! Apa yang harus kita pertengkarkan?"
"Bagaimana kalau sepotong roti ini?" kata bhiksu pertama.
"Baiklah, marilah kita bertengkar karena roti ini. Tapi bagaimana cara kita melakukannya?" tanya bhiksu yang kedua.
Bhiksu pertama lalu berkata, "Roti ini punyaku. Ini milikku semua."
Bhiksu kedua menjawab, "Kalau begitu, ambil saja."


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hanya ada satu penyebab semua pertengkaran dan permusuhan di bumi ini :
"Itu milikku!"

Apa Katamu?



Seorang guru menanamkan kebijaksanaan dalam hati muridnya, bukan di atas halaman buku. Si murid mungkin mengendapkan kebijaksanaan itu selama tiga puluh atau empat puluh tahun di dalam hatinya, sampai ia menemukan seseorang yang siap sedia untuk menerimanya. Itulah tradisi Zen.

Guru Zen Mu-nan menyadari bahwa ia hanya mempunyai satu orang penerus, yaitu muridnya Shoju. Pada suatu hari ia mengundangnya dan berkata: 'Sekarang aku sudah tua. Shoju, dan hanya engkaulah yang akan meneruskan ajaranku. Terimalah kitab ini, yang telah diwariskan selama tujuh turunan dari guru ke guru. Aku sendiri menambah beberapa catatan di dalamnya, yang kiranya akan berguna bagimu. Simpanlah kitab ini. sebagai tanda bahwa engkau penerusku.'

'Lebih baik kitab itu Guru simpan sendiri saja,' kata Shoju. 'Saya menerima ajaran Zen dari Guru secara lisan, maka saya lebih senang meneruskannya secara lisan pula.'

'Aku tahu, aku tahu,' kata Mu-nan dengan sabar. 'Namun kitab ini sudah disimpan selama tujuh turunan dan mungkin ada gunanya bagimu. Maka, terimalah dan simpanlah baik-baik.'

Keduanya kebetulan berbicara di dekat perapian. Begitu diterima Shoju, kitab itu langsung dilemparkannya ke dalam api. Ia tidak tertarik pada kata-kata tertulis.

Mu-nan yang sebelumnya dikenal sebagai orang yang tidak pernah marah, berteriak: 'Kau melakukan perbuatan biadab!'

Shoju juga berteriak: 'Guru mengucapkan kata-kata biadab!'

Sang Guru berbicara dengan penuh wibawa tentang apa yang sudah dialaminya sendiri. Ia tidak mengutip satu buku pun.


Dari: Burung Berkicau, Anthony De Mello

Baiklah, Baiklah



Seorang gadis di kampung nelayan hamil di luar nikah, Setelah berkali-kali dipukuli, akhirnya ia mengaku bahwa bapak dari anak yang dikandungnya adalah Guru Zen yang merenung sepanjang hari di dalam kuil di luar desa.

Orangtua si gadis bersama banyak penduduk desa beramai-ramai menuju kuil. Dengan kasar mereka menyerbu Guru yang sedang berdoa. Mereka menghajarnya karena kemunafikannya dan menuntut bahwa ia sebagai bapak anak itu wajib menanggung biaya untuk membesarkannya. Jawaban Guru itu hanyalah, 'Baiklah, baiklah.'

Setelah orang banyak pergi meninggalkannya, ia memungut bayi itu dari lantai. Ia minta supaya seorang ibu dari desa memberi anak itu makan dan pakaian serta merawatnya atas tanggungannya.

Guru itu jatuh namanya. Tidak ada lagi orang yang datang untuk meminta wejangannya.

Ketika peristiwa itu sudah berlalu satu tahun lamanya, gadis yang melahirkan anak itu tidak kuat menyimpan rahasianya lebih lama lagi. Akhirnya ia mengaku, bahwa ia telah berdusta. Ayah anak itu sebetulnya adalah pemuda di sebelah rumahnya. Orangtua si gadis dan para penduduk kampung amat menyesal. Mereka bersembah sujud di kaki Guru untuk mohon maaf dan meminta kembali anak tadi. Guru mengembalikannya dan yang dikatakannya hanyalah: 'Baiklah. Baiklah!'



Dari: Burung Berkicau, Anthony De Mello

Membawa Gadis Menyeberang Sungai



Guru Zen Jepang Tanzan dan rahib muda Ekido bertemu dengan seorang gadis cantik yang tidak bisa menyeberangi sungai kecil.

"Aku akan menggendongmu menyeberangi sungai", kata Tanzan kepada gadis tersebut.

Setelah di seberang sungai.
Gadis itu berkata "Guru, terima kasih dan selamat tinggal".

Tanzan dan rahib muda Ekido kemudian meneruskan perjalanan.
Setelah setengah hari perjalanan, Rahib muda Ekido bertanya
"Guru, kita bhiksu tidak boleh mendekati perempuan. Mengapa tadi anda menggendong gadis tersebut ?"

Jawab Tanzan "Gadis mana yang kamu maksud ? Aku sudah menurunkannya sejak tadi.
Mengapa kamu masih menggendongnya ?"