Hari ini saya menerima surat dari sebuah kota pesisir utara Jawa yang berisi permohonan maaf kepada saya. Tentu saja saya membalasnya dengan kata-kata: "Saya tidak berhak memberi maaf kepada Anda, sebab menurut pengetahuan saya Anda bersalah tidak kepada saya, melainkan kepada Tuhan, kepada gadis gila itu dan kepada diri Anda sendiri."
Meminta maaf kepada diri sendiri bisa ditempuh dengan penginsafan hati dan pembenahan cara berfikir. Memohon ampun kepada Allah bisa dijalankan dengan cara bersujud, shalat sebanyak-banyaknya, kalau perlu puasa dan menyampaikan qurban sebagai semacam ruwatan atau pembersihan diri. Tetapi bagaimana caranya meminta maaf kepada seorang yang dirahmati oleh Allah dengan kegilaan?
Ceritanya, beberapa minggu yang lalu datang ke rumah kontrakan saya tamu-tamu muda anggota suatu kelompok Tarikat. Pakaian mereka necis, rambut klimis, gerak-gerik mereka memenuhi segala konsep kesopanan, dan cahaya wajah mereka bagaikan memancarkan sima'hum fi wujuhihim min atsaris-sujud: ada tanda-tanda bersinar di wajahnya, jejak sujud-sujud rnereka kepada-Nya.
Showing posts with label Emha. Show all posts
Showing posts with label Emha. Show all posts
Obama - Obama Kita
Sungguh gembira hati ini menyaksikan semakin bermunculan para calon pemimpin bangsa. Panggung demi panggung terbangun. Terkadang mereka tampak bersaing ketat, tetapi kemudian nyata sekali bahwa mereka sesungguhnya bukan memikirkan eksistensi, kepentingan, atau ambisinya masing-masing, melainkan bersama-sama mengkonsentrasikan diri pada kepentingan bangsa.
Lihatlah itu Dewan Integritas Bangsa: Salahuddin Wahid, Bambang Sulistomo, Marwah Daud Ibrahim, Rizal Ramli, dan masih banyak lagi. Kompetisi di antara mereka bukanlah yang terpenting, melainkan kebersamaannya untuk siap memimpin bangsa. Begitu tampak wajah Gus Sholah, muncul kalimat di hati: "Gus Dur sudah uzur? Masih ada Gus Sholah." Sekilas wajah Rizal Ramli membuat decak kagum: "Gila, ini orang berani menantang debat Presiden SBY." Marwah Daud? "Kartini abad ke-21, intelektual, lihat ketangkasan geraknya di panggung nasional." Dan Bambang Sulistomo: "Bung Tomo saja sudah bikin geger dunia. Apalagi putra beliau!"
Megawati gegap-gempita lagi: lantang vokalnya, brilian pemikirannya, keluasan perspektif gagasan-gagasannya, dari gerakan mega mendung hingga naik turunnya yoyo. Sri Sultan X membuat dada mongkog dan wajah banyak orang berbunga-bunga. Prabowo yang mantap, Sutiyoso yang rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas, Wiranto kesatria yang kalem. Hidayat Nurwahid sang ustad ahli ushulul-fiqh sehingga mendahului Majelis Ulama berpikir tentang halal-haramnya golput. Dan Pak SBY sendiri, jangan tanya: beliau semakin piawai bagaimana melangkahkan kaki dan melambaikan tangan.
Sebagian mereka datang ke Mega bukan untuk audisi semacam Pildacil agar dipilih jadi calon wakil presiden. Kehadiran beliau-beliau mencerminkan kerendahan hati dan kebesaran jiwa, bahwa yang utama bukanlah self-dignity, melainkan pengabdian terhadap segala kemungkinan yang terbaik bagi bangsa.
Memang ada sebagian rakyat kita merasa pesimistis, atau apatis, terhadap Pemilu 2009. Itu normal, bisa dimafhumi: hak-hak dasar untuk sejahtera sebagai warga negara memang belum cukup terpenuhi selama ada negara Indonesia dengan berkali-kali ganti pemerintahan dan kepemimpinan. Tapi Indonesia akan bangun. Salah satu tanda-tandanya, sejak tahun lalu sudah bergulir suatu “historical refreshment”, gagasan pencerahan zaman yang mendambakan kaum muda segera tampil memimpin bangsa. Itu bagai tembang “Bang-bang Wetan”: matahari baru semburat di timur.
Memang kecakapan dan kedewasaan tidak selalu berbanding lurus dengan usia. Kalau memang bangsa ini menjumpai ada pemimpin sudah 70 tahun tapi ia paling capable, apa salahnya. Tapi kan sangat banyak orang usia tua tapi tak dewasa, atau awet remaja bahkan tetap kekanak-kanakan. Dan bukankah justru banyak anak muda yang secara mental dan ilmu bergerak cepat melampaui usianya?
Jadi, ayolah: “bang-bang wetan!” A new “install”. Buka pintu anak-anak muda untuk bikin set-up baru sejarah dan peradaban. Rizal “Chelly” Mallarangeng, Fajrul Rahman, Ratna Sarumpaet, Marwah Daud Ibrahim, siapa pun kaum muda yang akan naik panggung? Chelly punya seabrek pengalaman aktivisme dari Yogya hingga negeri Obama, ia sanggup menarik garis dari penjual wedang, satpam Akademi AU, hingga istana neoliberalisme. Fajrul penuh nyali dan ilmu yang memadai. Sarumpaet sangat menguasai “teater global” dan “drama kehidupan”. Marwah malang-melintang dari high-tech hingga santri Tebuireng.
Mereka bukan hanya layak tanding, tapi pasti unggul secara fenomenologis dan futurologis. Anak-anak muda ditakdirkan oleh “kebiasaan” Tuhan untuk pada zaman apa pun membawa paradigma baru. Mereka pelopor dan perintis. Mujtahid, aktivis ijtihad, kata Islam. Mereka adalah Obama-Obama Indonesia. Andaikan saja ada persediaan ilmu dan metodologi untuk mengerti apa hubungan kepresidenan Obama dengan tiga tahun ia di Jakarta. Tetapi jelas anak-anak muda Indonesia, untuk mencapai puncak kepemimpinan Negara, tidak harus menempuh 12 tahun persiapan sebagaimana Obama penggemar teks Pancasila membutuhkannya sebelum menjadi presiden kulit hitam "not too black" pertama di negeri adikuasa elang macannya jagat raya.
Indonesia adalah anak bungsu suatu bangsa besar yang pernah melahirkan Bandung Bondowoso yang sanggup membikin seribu candi hanya dalam waktu satu malam. Kaum muda cucu Bondowoso bisa menjadi presiden kapan saja, bahkan secara instan, karena kita bukanlah bangsa dengan kemampuan “konvensional” sebagaimana bangsa-bangsa lain. Penduduk NKRI bukanlah bangsa burung "emprit", melainkan "garuda".
Bung Karno cukup lulusan Bandung, tidak perlu kuliah di Belanda dan bergabung dalam kelompok aktivis "Perhimpunan Indonesia" untuk menjadi pemimpin terbesar mengungguli Bung Hatta dan tokoh-tokoh siapa pun yang lain. Soeharto cukup menyerap saripati tari Bedoyo Ketawang untuk mempecundangi kita semua selama 32 tahun. Habibie bahkan naik takhta "min haitsu la yahtasib" alias "blessing in disguise". Gus Dur “wong agung” dengan kebesaran dan kaliber ekstra di mana Indonesia bergulir-gulir seperti butiran kelereng di genggaman tangannya. Megawati tidak perlu berkeringat dan mengerahkan ilmu, kekuatan atau aji-aji apa pun saja untuk sanggup menjadi pemimpin puncak. Dan beliau pemimpin hari ini, Susilo Bambang Yudhoyono, tangkai bandul, penjaga keseimbangan, pembersih wajah zaman agar senantiasa resik dan berkilau.
Tentu saja bagi calon-calon pemimpin muda itu bukan ringan bersaing melawan presiden yang sekarang, yang sangat peka momentum kapan kasih BLT, kapan menaikkan dan menurunkan harga minyak, kapan tanam pohon, kapan menggratiskan pendidikan. Ia jugalah konseptor reformasi TNI dan prajurit bangsa yang paling awal merintis pemikiran dan aspirasi reformasi.
Wiranto, Prabowo, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Sutiyoso, Yusril Ihza Mahendra, karena mereka juga cucu bangsa besar sebagai adik-adiknya, memiliki ajian pinunjul-nya sendiri-sendiri. Wiranto gagah perkasa menentang perintah Presiden Soeharto untuk memberangus gerakan mahasiswa dan makar jarah 1998. Prabowo tegak punggungnya, tajam pandangan mripatnya, sunyi menanggung risiko terbanting dari tembok rumah keluarganya, dan ia memiliki keanggunan serta kegagahannya sendiri jika nanti sebagai presiden berdiri berjejer di hadapannya para pembalak triliunan rupiah uang rakyatnya.
Sri Sultan jangan diragukan lagi, “keris” di tangan kirinya sebagai "Khalifatullah ing Bhumi Ngayogyakartahadiningrat" dan “pedang” di tangan kanannya sebagai Presiden Republik Indonesia: jika kedua “kesaktian” sejarah itu bergerak, rakyat percaya beliau akan membukakan pintu-pintu perubahan yang tak terduga. “Keris” itu lambang kesadaran nenek moyang dan estafet pencapaian-pencapaian peradaban, “pedang” adalah garda depan ilmu dan kecakapan modern.
Sutiyoso dipandang oleh segala parameter rasional modern sangat tepat dan cakap menjadi presiden, karena sukses besarnya menjaga keseimbangan Ibu Kota selama dua periode, dengan terobosan-terobosan yang susah dicari tandingannya. Yusril "Cheng Ho" ahli hukum tata negara adalah “panglima” yang mengerti persis bagaimana membangunkan kembali sejumlah kebesaran bangsa yang pernah muncul dalam demokrasi era 1950-an, dengan formula yang terukur dosisnya dan pada proporsi yang relevan untuk kekinian.
Tua atau muda, bangsa kita bergelimang pemimpin. Si pemuda ganteng Yuddy Chrisnandi dengan ragam pengalaman aktivismenya, Rizal Ramli dengan keempuannya di bidang yang paling urgen dari permasalahan bangsa: kebangkitan ekonomi. Dan Bambang Sulistomo, putra Bung Tomo yang menggegerkan dunia dari Surabaya dengan “ilmu sihir” yang menggulingkan rumus ibu perang modern. Itu baru Bung Tomo, belum putra beliau yang pasti jauh lebih berkaliber kependekarannya dibanding bapaknya.
Alhasil, kita optimistis menjalani 2009 ke atas. Kalau Anda mengajak bertanding untuk mengkritik dan menemukan kekurangan atau keburukan para calon pemimpin kita, saya abstain. Sebab, bagi saya sekarang, yang tepat adalah membesarkan hati seorang dan setiap calon pemimpin.
(Emha Ainun Nadjib/Koran tempo/31 Januari 2009/PadhangmBulanNetDok)
Krisis Kemanusiaan Israel
Kalau mungkin, kapan-kapan berkunjunglah ke Kantor Perdana Menteri Israel dan mintalah diizinkan memasuki ruangan khusus yang berisi segala data tentang Indonesia.
Segala sisi data dan fakta tentang NKRI, pemetaan kekayaan alamnya, kekuatan-kelemahan politik dan militernya, pemetaan sosial budayanya, daftar tokoh-tokoh segala bidang, update peristiwaperistiwa apa pun yang diperbarui dalam ukuran minggu. Secara intelijen maupun secara ilmu pengetahuan, jangan dulu tidak percaya bahwa Israel lebih mengetahui Indonesia dibanding Indonesia mengetahui dirinya sendiri.
Kalau masih mau bersabar hati dan berlapang pikiran, tuliskan di dalam dirimu probabilitas bahwa Israel mengetahui sesuatu yang khusus tentang Indonesia- masa silam hingga masa depan-yang Indonesia sendiri sebagian pernah tahu tapi malas mengidentifikasinya , sebagian lain memang belum pernah tahu sama sekali. Iseng-iseng bukalah us-israel.org dan pandangilah center main display peta Republik Indonesia dengan sejumlah tempat ditandai dengan warna merah mencolok, seolah-olah ia dibikin oleh Indonesia dan tentang Indonesia.
Karena semua orang "berbunyi" sama tentang penyerbuan Gaza terakhir ini, ketika ada yang bertanya, saya menjawab: "Saya membayangkan bukan Gaza yang diserbu oleh Israel,tapi Indonesia". Lho kok? "Saya tidak mengharapkan hal itu akan pernah benar-benar terjadi, tetapi Indonesia perlu mulai belajar bahwa orang lain jauh lebih mengerti kekuatan dan kelemahannya dibanding dirinya sendiri.
Juga saya ingin memerhatikan gelagat, apakah dengan pengetahuan Israel yang mumpuni tentang Indonesia itu akan membuat Israel sedemikian berani "bermusuhan" dengan Indonesia, ataukah sebaliknya..." Saya tidak akan memperpanjang tema ini, apalagi sampai surut jauh ke belakang pra-Nabi Ibrahim,era Parikesit dan banjir Nuh yang menyusun kepulauan-kepulauan, dst.
Saya tidak mau merepotkan bangsa Indonesia yang selalu asyik dengan keahliannya menikmati kehidupan apa adanya, untuk tenggelam dalam penggalan-penggalan waktu, untuk berpikir sejengkal dan tidak memerlukan orientasi futurologis yang agak sedikit panjang ke depan-justru karena bangsa Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa, sehingga tidak memerlukan kesiapan apa pun untuk menghadapi apa pun. Setiap saat bangsa Nusantara ini siap ditabrak oleh apa pun: bahkan oleh penderitaan dan kehancuran yang seberapa parah pun.
Sekarang,dan itu sudah sejak lima tahun terakhir: bangsa besar ini sibuk dengan tiga hal. Pertama,pemilihan pemimpin.Kedua, pemilihan pemimpin.Ketiga, pemilihan pemimpin. Tanpa pernah benar benar peduli apakah pemimpin yang dipilihnya itu memang pemimpin, apakah pula pemilihan dan pemilihan dan pemilihan itu lebih besar manfaatnya ataukah
mudaratnya.
Israel berani dan telah berhasil mempermainkan dunia, tetapi Indonesia terbukti juga sangat berani dan sukses mempermainkan dirinya sendiri. Israel setuju pada usulan PBB.Lumayan puas menempelengi harga diri Palestina dan membunuhi ratusan warganya, sekarang Israel menjadi pihak yang memiliki kearifan dan kemuliaan karena mau beristirahat menempeleng. Dia tidak mendapat sanksi apa pun dari PBB,dari Negara negara Arab,serta dari siapa pun saja. Nanti kalau ritme sudah bergulir dan momentumnya tiba: tempeleng lagi.
Yang bingung di muka bumi karena dipermainkan oleh Israel bukan hanya Umat beragama, bukan hanya PBB, dan siapa pun lainnya, tapi bahasa dan kata juga kebingungan. Israel istirahat mbedil di puncak "krisis kemanusiaan" Palestina. Dunia makna bingung tentang kapan Palestina mengalami krisis kemanusiaan, karena dari sudut tafsir apa pun sesungguhnya Israellah yang mengalami krisis kemanusiaan. Kita juga kebingungan.
Sebuah lembaga nasional berteriak,"Boikot Amerika Serikat!" Teriakan itu disebar ke media-media sesudah diketik dengan alat bikinan Bill Gates atau Steve Jobs, dan petugasnya karena capek mungkin delivery order McD.Kelompok-kelompok berkumpul dengan idiom "Umat Islam"yang menyatakan bermusuhan dengan Umat Kristen dan Yahudi.Jangan sampai kelompok Kristen yang gabung dengan Hamas di Palestina serta orang-orang Yahudi warga Israel yang anti penyerbuan Gaza mendengar idiom itu.
Semua negara-negara Arab sudah dikasih tahu sebelumnya bahwa Israel akan menyerbu Palestina.Dan syukur alhamdulillah mereka tidak berbuat apa-apa sehingga Perang Dunia bisa dihindarkan. Jangan terlalu setia, jangan terlalu bermoral, demi supaya tidak terjadi global war yang menyengsarakan semua makhluk. Israel sangat hafal mengamati "sela-sela air hujan".
Orang sibuk Natal dan Tahun Baru, Obama sudah presiden tapi belum bertugas, jadwal gencatan senjata telah berakhir: maka sebuah "upper-cut" dahsyat dilayangkan ke dagu
Palestina. Manusia di gurun itu meraung raung, kita semua manusia di bumi menangis, Chavez mengusir Dubes Israel, pemimpin-pemimpin kita melontarkan rudal kutukan, dan kita rakyat militan berkumpul menyiapkan ilmu kebal melawan peluru tentara Israel,kemudian minta Palestina memfasilitasi keberangkatan kita ke medan perang.
Memfasilitasi itu tidak dijelaskan apakah berarti minta disediakan tiket Jakarta-Cairo PP. Sekarang,karena senapan prajurit Israel dirundukkan dan tidak dikokang lagi, segera kita dangdutan dan ngegosiptainment lagi. Nanti, kalau suara bedil menyalak lagi, kita demo lagi sesaat. Dunia tidak memerlukan penyelesaian tuntas dan mendasar atas permasalahan apa pun yang menimpanya dan yang diciptakannya sendiri.(*)
Emha Ainun Nadjib
Subscribe to:
Posts (Atom)