Showing posts with label Gede Prama. Show all posts
Showing posts with label Gede Prama. Show all posts
Mendengarkan Bocah Dalam Diri
Anak-anak, bagi saya, adalah sebuah kekayaan yang amat berharga dalam kehidupan. Mereka tidak hanya penerus kehidupan, dalam dimensi kekinian juga sumber tawa dan canda. Bayangkan, sesuatu bila diucapkan orang dewasa menjadi biasa-biasa saja, namun bila terucap dari mulut bocah, tawa dan bangga mudah keluar.
Sayangnya, tidak demikian halnya dengan bocah di dalam diri kita. Sedikit saja timbul kesalahan, kita mudah sekali menyebut diri kekanak-kanakan. Kita menyebut semua bentuk perilaku kanak-kanak sebagai perilaku yang perlu disembunyikan.
Coba perhatikan pegolf dunia Tiger Wood tatkala baru memperoleh birdie, ia menampilkan perilaku kanak-kanaknya dengan menyatukan siku dengan lututnya.
Amati pemain sepak bola yang berhasil merobohkan gawang lawan, ia berlari, berteriak, memeluk semua temannya persis seperti anak-anak. Iklan sebuah telepon seluler menunjukkan, bahkan pemimpin dunia sedingin Margareth Thatcher-pun bisa mempertontonkan perilaku anak-anak di depan umum.
Sebagaimana pernah dikerangkakan melalui analisis transaksional, anak-anak adalah bagian dari diri kita selama kita masih bernafas. Mau dimusnahkan sekalipun, ia akan senantiasa menjadi bagian integral dari tubuh kita.
Bila ditekan, disamping menjadi sumber daya tidak terpakai, ia juga bisa membuat hidup tidak seimbang. Sesuatu yang kerap menjadi awal kecelakaan hidup.
Lebih dari itu, energi kanak-kanak juga menjadi sumber dari kejernihan, kreatifitas, dan kepolosan-kepolosan alami. Coba perhatikan pertanyaan-pertanyaan polos anak-anak di rumah. Bukankah ia teramat jujur ? Kendati naif, tidakkah ia menyimpan fundamentalisme hidup ? Meskipun lucu, tidak jarang kita dibuat terperanjat oleh pertanyaan-pertanyaan anak-anak.
Setali tiga uang dengan anak-anak di rumah, bocah di dalam diri kita juga sama. Ia sering bertanya, bercanda, menimbulkan tawa, atau kadang sarkastis terhadap diri kita.
Saya sering mentertawai hidung saya yang dulu ditertawai orang. Rambut rontok saya, tidak hanya menjadi bahan tertawaan saya, tetapi juga konsumsi orang lain.
Sebagai hasilnya, lebih dari sekadar tertawa sendiri maupun bersama orang lain, kegiatan mentertawai diri sendiri ini sering menjadi sumber kedewasaan, dan kearifan hidup. Penyakit mudah tersinggung yang menghinggapi saya dulu, pelan-pelan berkurang secara meyakinkan. Kekakuan bergaul dengan orang lain, luntur bersamaan dengan semakin seringnya saya mentertawai diri sendiri. Tidak sedikit uang yang saya peroleh yang bersumber dari imajinasi ala anak-anak. Paradigma anak-anak yang polos dan lentur, tidak hanya mengurangi konflik dengan orang lain, tetapi juga membuat saya semakin kaya secara filsafat.
Karena demikian seringnya bocah dari dalam ini didengar, ia teramat sering menjadi rem etika yang mengagumkan. Di hotel tempat saya sering menginap, ada banyak godaan, namun kanan-kanak saya bertanya : 'bukankah kamu menjadi guru buat orang lain ?'. Di perusahaan tempat saya bekerja, sering ada peluang uang yang tidak sedikit, tetapi bocah dalam diri ini sering berucap lirih : 'bukankah Anda sering berucap di seminar, bahwa etika adalah sesuatu yang Anda lakukan ketika orang lain tidak ada ?'.
Bocah ini tidak saja berfungsi menjadi rem. Ia kerap menjadi penyeimbang kehidupan yang mengagumkan. Tatkala badan sudah diperkosa pekerjaan, kanak-kanak di dalam diri permisi untuk diajak teriak-teriak di karaoke, lapangan golf, atau malah di sungai belakang rumah. Ketika mood lagi jenuh, ia mulai merengek untuk diajak bertemu teman yang menimbulkan tawa. Di saat rasa marah muncul, ia meledek saya sebagai orang yang hanya bisa bicara di depan umum tanpa bisa melaksanakan.
Saya tidak tahu bagaimana pengalaman Anda, bagi saya energi kanak-kanak yang tersembunyi dalam diri kita amatlah luar biasa jika dimanfaatkan.
Ada beberapa ciri yang melekat dalam energi yang sering tidak diizinkan untuk muncul ini. Polos, naif, jujur, tidak masuk akal, lucu, egois, adalah sebagian dari ciri-ciri dorongan kekanak-kanakan.
Anda boleh punya cara lain untuk belajar mendengarkan bocah dalam diri Anda.
Saya melakukannya dengan beberapa langkah berikut.
Pertama, miliki minimal setengah jam setiap hari untuk meledek atau mentertawakan diri sendiri. Waspadai jangan sampai membuat diri Anda minder.
Kedua, daftar kelucuan, kobodohan dan kekhilapan Anda selama hidup, dan temukan cara untuk mentertawakannya.
Ketiga, luangkan waktu untuk memuaskan anak-anak di dalam diri Anda. Saya melakukannya dengan berkaraoke, berteriak di lapangan golf, mencoret-coret foto orang yang saya tidak suka.
Keempat, setiap kali melihat persoalan - apa lagi saat kepala mampet - tanyalah diri Anda : 'bagaimana saya melihat persoalan ini tatkala saya masih anak-anak?'.
Sebagaimana pernah ditulis fisikawan Fritjof Capra dalam The Uncommon Wisdom :
'Krishnamurti told with all his charisma and persuasion to stop thinking, to liberate my self from all knowledge, to leave reasoning behind.'
Keberanian untuk berhenti berfikir, meletakkan reason di belakang, membebaskan diri dari semua pengetahuan - yang saya yakin menjadi titik awal dari kreatifitas dan kepekaan kemanusiaan, bisa dilakukan bila kita kembali ke posisi innocent sebagaimana anak-anak. Ini bisa dicapai, bila kita rajin mendengarkan bocah dalam diri.
Gede Prama
Agama Saya Cinta
Paradoks, itulah judul yang diberikan terhadap kecenderungan kekinian
dalam kehidupan. John Naisbitt adalah salah satu tokoh yang
berkontribusi besar terhadap populernya terminologi paradoks.
Fundamental dalam pikiran orang- orang seperti Naisbitt, bila ada
kecenderungan yang keluar dari rel akal sehat, dengan mudah masuk ke
kotak paradoks. Sebagian dari manusia yang memberi judul paradoks
kemudian kecewa, sebagian lagi malah bertumbuh justru karena paradoks.
Tulisan ini berharap, mudah-mudahan lebih banyak sahabat yang dibuat
bertumbuh oleh paradoks-paradoks berikut. Tidak menjadi niat tulisan ini
agar paradoks-paradoks berikut menjadi awal permusuhan dan kecurigaan baru.
Sebagian paradoks yang layak dicermati adalah apa yang terjadi di Bali,
India, Tibet, sampai Timur Tengah. Bali, sebagaimana dikomunikasikan
dalam waktu lama oleh industri pariwisata, adalah pulau kedamaian.
Namun, di sini juga ribuan manusia dibantai karena judul komunis di
tahun 1965. Di sini juga dua bom teroris meraung-raung memakan banyak
jiwa manusia. Di sini juga sebuah kota terbakar karena calon presiden
yang didukung tidak terpilih di tahun 1999. Di Bali juga terjadi orang
yang sudah meninggal pun masih dihalangi agar pulang secara damai.
India juga serupa. Di sini lahir dua agama dunia (Hindu dan Buddha), di
sini juga terlahir tokoh-tokoh spiritual yang besar dan mengagumkan,
dari Mahatma Gandhi, Ramakrishna, Svami Vivekananda, 0sho, Ramana
Maharsi, sampai Buddha Gautama, Atisha, dan Acharya Shantidewa. Namun,
di sini juga kebencian memacu permusuhan terus-menerus sehingga sahabat
Hindu dengan sahabat Islam belum mengakhiri secara tuntas permusuhannya.
Persoalan perbatasan masih memanas. Sejumlah tempat ibadah masih dijaga
aparat.
Tibet adalah atap dunia. Seperti kepalanya Bumi. Dengan demikian, mudah
dimengerti di sini lahir banyak sastra kehidupan yang mengagumkan (salah
satu contohnya The Tibetian Book of the Dead). Namun, di sini juga
kesedihan berumur teramat panjang. Dari pemimpinnya Dalai Lama sudah di
pengasingan selama puluhan tahun, nasib rakyat Tibet yang penuh dengan
tangisan. Dan belum ada tanda-tanda kuat kalau negeri suci ini akan
mengalami perubahan.
Timur Tengah juga serupa. Di sini dua agama dunia (Islam dan Nasrani)
pernah lahir. Namun, di sini juga mesin-mesin senjata meraung-raung
terus memakan korban-korban manusia tidak berdaya. Israel dan Palestina
belum menunjukkan tanda-tanda berdamai dalam jangka panjang. Belakangan
malah semakin menyedihkan.
Dengan demikian, dalam totalitas, mudah dimengerti kalau Naisbitt pernah
membaca sebuah kecenderungan mendunia: 'religion no, spirituality yes'.
Agama tidak, spiritualitas ya. Ini mirip dengan pengalaman seorang
remaja Indonesia yang pernah kuliah di Melbourne, Australia. Suatu kali
dalam kelas yang besar jumlah mahasiswanya, dosennya bertanya: any one
of you who have religion? Siapakah yang memiliki agama di kelas ini? Dan
yang menaikkan tangan hanya segelintir orang. Namun, mahasiswa yang
tidak menaikkan tangannya kalau meminjam pensil tidak lupa
mengembalikan. Bila bertemu ibu-ibu dosen membawa beban buku agak berat,
mereka cepat memberikan pertolongan. Bila antre di mana pun sangat
disiplin. Tatkala bertemu sahabat lain tersenyum sambil mengucapkan
selamat pagi. Bila ada teman dalam kesulitan, refleknya bekerja amat
cepat untuk membantu. Bila masuk pintu lift atau pintu kereta api
mendahulukan orang tua.
Karena itu, menimbulkan pertanyaan, apa agama orang-orang ini? Mirip
dengan sejumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali. Ketika
ditanya apakah Anda Nasrani, ia hanya menjawab dengan senyuman tidak
bersuara. Namun, sopannya, ya ampun. Masuk rumah mengetuk pintu, lupa
dipersilakan duduk, kemudian bertanya: boleh saya duduk? Bila tidak
sependapat, memulai dengan kata 'maafkan kalau saya tidak sependapat'.
Dan sejumlah sopan santun yang menyentuh hati.
Ini juga yang membuat sejumlah sahabat di dunia spiritual mulai
bergeser: dari pengetahuan spiritual menuju pencapaian spiritual.
Belajar dari Buddha lengkap dengan welas asihnya tentu baik. Membaca
puisi-puisi sufi yang bertema cinta dan hanya cinta tentu berguna. Kagum
dengan doa Santo Fransiscus dari Asisi tentu bermakna. Jatuh cinta sama
Bhagawad Gita tentu sebuah pertumbuhan jiwa. Mendalami
kebijaksanaan-kebijaksanaan Confucius tentu saja bermanfaat. Namun,
mengaktualisasikannya ke dalam pencapaian spiritual keseharian tentu
memerlukan upaya yang jauh lebih keras lagi.
Banyak guru yang sepakat, jembatan terpenting yang menghubungkan antara
pengetahuan spiritual dan pencapaian spiritual adalah latihan. Seperti
menemukan keseimbangan bersepeda, hanya latihan yang paling banyak
membantu. Dan waktu serta tempatnya tersedia di mana-mana secara
berlimpah. Di rumah, tempat kerja, sekolah, jalan raya, tempat ibadah,
sampai lapangan sepak bola, semuanya bisa menjadi tempat-tempat
menemukan pencapaian spiritual. Seperti kalimat indah Kahlil Gibran:
'keseharian kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya'.
Menyayangi istri/suami, mendidik putra/putri, mencintai orangtua,
menghormati tetangga, menghargai pendapat atau sikap yang berbeda,
menghormati atasan, menghargai jasa pemerintah, berterima kasih kepada
tukang sapu atau pembantu, dan bila mampu mencintai musuh ada- lah
rangkaian pencapaian spiritual keseharian yang mengagumkan. Pengetahuan
spiritual memang kaya kata-kata. Namun, pencapaian spiritual kaya akan
pelaksanaan.
Kagum dengan pencapaian spiritual Dalai Lama, Richard Gere pernah
bertanya kepada pemimpin spiritual Tibet ini tentang agama yang
sebenarnya dianut Dalai Lama dalam keseharian. Dengan senyuman penuh di
muka, Dalai Lama menjawab: agama saya yang sebenarnya adalah kebaikan.
Ini mirip dengan cerita tentang mahasiswa Melbourne di depan yang tidak
menaikkan tangan ketika ditanya punya agama atau tidak. Namun, dalam
kesehariannya mereka rajin membantu, sekaligus jarang menyakiti.
Sebagian dari orang-orang ini sambil bergumam mengatakan:
"Agama saya, Cinta"
dalam kehidupan. John Naisbitt adalah salah satu tokoh yang
berkontribusi besar terhadap populernya terminologi paradoks.
Fundamental dalam pikiran orang- orang seperti Naisbitt, bila ada
kecenderungan yang keluar dari rel akal sehat, dengan mudah masuk ke
kotak paradoks. Sebagian dari manusia yang memberi judul paradoks
kemudian kecewa, sebagian lagi malah bertumbuh justru karena paradoks.
Tulisan ini berharap, mudah-mudahan lebih banyak sahabat yang dibuat
bertumbuh oleh paradoks-paradoks berikut. Tidak menjadi niat tulisan ini
agar paradoks-paradoks berikut menjadi awal permusuhan dan kecurigaan baru.
Sebagian paradoks yang layak dicermati adalah apa yang terjadi di Bali,
India, Tibet, sampai Timur Tengah. Bali, sebagaimana dikomunikasikan
dalam waktu lama oleh industri pariwisata, adalah pulau kedamaian.
Namun, di sini juga ribuan manusia dibantai karena judul komunis di
tahun 1965. Di sini juga dua bom teroris meraung-raung memakan banyak
jiwa manusia. Di sini juga sebuah kota terbakar karena calon presiden
yang didukung tidak terpilih di tahun 1999. Di Bali juga terjadi orang
yang sudah meninggal pun masih dihalangi agar pulang secara damai.
India juga serupa. Di sini lahir dua agama dunia (Hindu dan Buddha), di
sini juga terlahir tokoh-tokoh spiritual yang besar dan mengagumkan,
dari Mahatma Gandhi, Ramakrishna, Svami Vivekananda, 0sho, Ramana
Maharsi, sampai Buddha Gautama, Atisha, dan Acharya Shantidewa. Namun,
di sini juga kebencian memacu permusuhan terus-menerus sehingga sahabat
Hindu dengan sahabat Islam belum mengakhiri secara tuntas permusuhannya.
Persoalan perbatasan masih memanas. Sejumlah tempat ibadah masih dijaga
aparat.
Tibet adalah atap dunia. Seperti kepalanya Bumi. Dengan demikian, mudah
dimengerti di sini lahir banyak sastra kehidupan yang mengagumkan (salah
satu contohnya The Tibetian Book of the Dead). Namun, di sini juga
kesedihan berumur teramat panjang. Dari pemimpinnya Dalai Lama sudah di
pengasingan selama puluhan tahun, nasib rakyat Tibet yang penuh dengan
tangisan. Dan belum ada tanda-tanda kuat kalau negeri suci ini akan
mengalami perubahan.
Timur Tengah juga serupa. Di sini dua agama dunia (Islam dan Nasrani)
pernah lahir. Namun, di sini juga mesin-mesin senjata meraung-raung
terus memakan korban-korban manusia tidak berdaya. Israel dan Palestina
belum menunjukkan tanda-tanda berdamai dalam jangka panjang. Belakangan
malah semakin menyedihkan.
Dengan demikian, dalam totalitas, mudah dimengerti kalau Naisbitt pernah
membaca sebuah kecenderungan mendunia: 'religion no, spirituality yes'.
Agama tidak, spiritualitas ya. Ini mirip dengan pengalaman seorang
remaja Indonesia yang pernah kuliah di Melbourne, Australia. Suatu kali
dalam kelas yang besar jumlah mahasiswanya, dosennya bertanya: any one
of you who have religion? Siapakah yang memiliki agama di kelas ini? Dan
yang menaikkan tangan hanya segelintir orang. Namun, mahasiswa yang
tidak menaikkan tangannya kalau meminjam pensil tidak lupa
mengembalikan. Bila bertemu ibu-ibu dosen membawa beban buku agak berat,
mereka cepat memberikan pertolongan. Bila antre di mana pun sangat
disiplin. Tatkala bertemu sahabat lain tersenyum sambil mengucapkan
selamat pagi. Bila ada teman dalam kesulitan, refleknya bekerja amat
cepat untuk membantu. Bila masuk pintu lift atau pintu kereta api
mendahulukan orang tua.
Karena itu, menimbulkan pertanyaan, apa agama orang-orang ini? Mirip
dengan sejumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali. Ketika
ditanya apakah Anda Nasrani, ia hanya menjawab dengan senyuman tidak
bersuara. Namun, sopannya, ya ampun. Masuk rumah mengetuk pintu, lupa
dipersilakan duduk, kemudian bertanya: boleh saya duduk? Bila tidak
sependapat, memulai dengan kata 'maafkan kalau saya tidak sependapat'.
Dan sejumlah sopan santun yang menyentuh hati.
Ini juga yang membuat sejumlah sahabat di dunia spiritual mulai
bergeser: dari pengetahuan spiritual menuju pencapaian spiritual.
Belajar dari Buddha lengkap dengan welas asihnya tentu baik. Membaca
puisi-puisi sufi yang bertema cinta dan hanya cinta tentu berguna. Kagum
dengan doa Santo Fransiscus dari Asisi tentu bermakna. Jatuh cinta sama
Bhagawad Gita tentu sebuah pertumbuhan jiwa. Mendalami
kebijaksanaan-kebijaksanaan Confucius tentu saja bermanfaat. Namun,
mengaktualisasikannya ke dalam pencapaian spiritual keseharian tentu
memerlukan upaya yang jauh lebih keras lagi.
Banyak guru yang sepakat, jembatan terpenting yang menghubungkan antara
pengetahuan spiritual dan pencapaian spiritual adalah latihan. Seperti
menemukan keseimbangan bersepeda, hanya latihan yang paling banyak
membantu. Dan waktu serta tempatnya tersedia di mana-mana secara
berlimpah. Di rumah, tempat kerja, sekolah, jalan raya, tempat ibadah,
sampai lapangan sepak bola, semuanya bisa menjadi tempat-tempat
menemukan pencapaian spiritual. Seperti kalimat indah Kahlil Gibran:
'keseharian kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya'.
Menyayangi istri/suami, mendidik putra/putri, mencintai orangtua,
menghormati tetangga, menghargai pendapat atau sikap yang berbeda,
menghormati atasan, menghargai jasa pemerintah, berterima kasih kepada
tukang sapu atau pembantu, dan bila mampu mencintai musuh ada- lah
rangkaian pencapaian spiritual keseharian yang mengagumkan. Pengetahuan
spiritual memang kaya kata-kata. Namun, pencapaian spiritual kaya akan
pelaksanaan.
Kagum dengan pencapaian spiritual Dalai Lama, Richard Gere pernah
bertanya kepada pemimpin spiritual Tibet ini tentang agama yang
sebenarnya dianut Dalai Lama dalam keseharian. Dengan senyuman penuh di
muka, Dalai Lama menjawab: agama saya yang sebenarnya adalah kebaikan.
Ini mirip dengan cerita tentang mahasiswa Melbourne di depan yang tidak
menaikkan tangan ketika ditanya punya agama atau tidak. Namun, dalam
kesehariannya mereka rajin membantu, sekaligus jarang menyakiti.
Sebagian dari orang-orang ini sambil bergumam mengatakan:
"Agama saya, Cinta"
Subscribe to:
Posts (Atom)